CINTAKU TELAH DI UJUNG JALAN
by: Hardin Tasmi
Lebih cepat aku melangkah. Tapi dia masih mengikuti. Aku berlari, dia juga berlari kecil di belakangku. Aarggh...! Aku mulai menggeram. Kesal mulai menggelora.
“Kau tak mengerti bahasa manusia ya? Sudah ku bilang, jangan ikuti aku lagi!” bentakku.
Dia hanya diam. Tak bersuara sedikitpun. Mataku memicingkan sinis. Sesekali dia menatapku lama. Kemudian berpaling. Hingga akhirnya dia tak berani lagi menatap mataku dan menunduk.
Belum jauh aku melangkah. Aku berpaling melihatnya. Dia belum beranjak dari tempatnya. Tak lama saat aku menoleh lagi, dia berlari kecil lagi di belakangku. Sudahlah. Terserah dia mau mengikuti atau tidak. Aku juga hampir sampai rumah. Saat aku masuk, dia berdiri di depan pintu dan berharap untuk dipersilakan masuk. Segera ku tutup, mengunci pintunya dan langsung menuju kamar.
Gerimis masih mengguyur. Tak heran kalau udara dingin. Apalagi sekarang bulan Desember, memang waktunya musim hujan. Malah hampir tiap hari hujan. Seakan Kota Jambi menggantikan julukan Bogor sebagai Kota Hujan. Terus terang, aku lebih suka merasakan udara dingin seperti ini dibandingkan panas yang membuat diriku gerah dan berkeringat. Terutama saat ini, malam hari, seperti merasakan nol derajat Celcius. Yang lain tidak merasakan begitu. Mereka lebih menyukai kebalikannya. Banyak dari mereka yang jatuh sakit. Mungkin karena mereka tidak menyukai dingin atau bisa jadi sistem imun mereka yang lemah.
Hujan menggantikan gerimis dalam sekejap. Ternyata angin kencang ikut menemani. Ku tutup jendela kamar. Tetap saja angin menyerobot celah-celah kamar. Malam telah larut. Aku beranjak ke tempat tidur. Selimut menutupi diriku kecuali bagian kepala.
Kletik. Kletik. Air yang terbawa oleh angin, mengetok jendela. Biarkan saja. Toh, bentar lagi juga aku akan terlelap. Lama. Tak kunjung menyentuh alam mimpi. Suara itu terdengar masih nyaring, malah semakin keras karena angin semakin kencang.
“Oh, tidak.”
Tiba-tiba teringat sesuatu. Aku mulai bangkit. Beranjak keluar kamar dan membuka kunci pintu rumah. Syukurlah dia masih duduk disitu. Aku menoleh ke dalam rumah. Sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Ku isyaratkan agar dia segera masuk dan menuju kamarku.
“Tidurlah disana!”
Dengan segera dia naik ke kasur. Untunglah kasurku lapang. Muat untuk dua atau tiga orang. Aku juga bergegas naik. Dan ku tarik selimut hingga menghangatkan kami berdua. Saat itu juga dia terbatuk.
“Sssstt...! Jangan berisik, nanti ketauan!”
Pagi menjelang. Nyala lampu menerangi ruang tengah. Dari yang tampak gelap menjadi secercah cahaya yang menyilaukan mata. Selalu di saat mau tidur, aku bahkan tidak mematikan lampu kamar saja, juga lampu ruang tengah yang menghubungkan kamarku. Ganjil rasanya. Aku terusik jika hendak tidur kalau lampu belum padam. Entahlah, aku memang suka gelap. Sekarang cahaya itu masuk ke kamarku, bak layar proyektor bioskop, hanya saja tidak ada film yang ditayangkan.
Tanda-tanda kehidupan mulai hadir. Ku lihat, dia masih tertidur pulas. Sebenarnya aku ingin membangunkannya. Tapi iba. Selagi dia tidak batuk, takkan ada yang tahu.
Maaf ya, tadi malam aku berbicara kasar padamu, sesalku dalam hati.
Aku tak bermaksud bersikap seperti itu. Hanya saja, aku tidak ingin dia terus bergantung denganku. Orangtuaku jelas tidak mengijinkan aku menampungnya. Pernah suatu ketika aku bertengkar dengan mereka.
“Pokoknya tidak boleh. Titik.”
“Kenapa Ma? Tapi Yan kasihan.”
“Rianda...! Kamu tuh anak perempuan Mama satu-satunya. Nanti kamu bisa ketularan penyakit. Dia kan kotor dan batuk-batuk. Apa kamu mau ketularan pes atau TBC?”
“Tapi Ma,”
“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang habiskan sarapan kamu dan lekas pergi kuliah!”
“Sudahlah Yan! Apa yang dikatakan Mama-mu benar,” Papa menyetujui Mama.
Aku terdiam. Tak dapat melantunkan kata-kata lagi. Hanya duduk dan menghabiskan nasi goreng di meja.
“Oh ya, jangan pernah bawa dia ke kamar kamu lagi!” suara lembutnya seperti ancaman kecil. Aku hanya menelan air ludah.
Walaupun mereka berkata seperti itu, tetap saja aku tak menggubris omongan mereka. Layaknya pagi ini, dia masih berada di kamarku. Pasti gawat kalau ketahuan lagi.
Terburu-buru ke kampus, eh, ternyata dosennya belum datang. Giliran kita yang telat, mengomel seperti suara kereta api, sayangnya tidak ada asap di kepalanya. Emang, orang yang punya tahta rendah, haknya lebih sering terinjak-injak. Dan itu terbukti.
Tiga puluh menit berlalu. Penonton kecewa karena dosen tidak datang. Tapi banyak juga yang senang. Kalau aku sebagai Mahasiswi yang rajin, tentu kecewa. Belum lagi dampaknya nanti merembet minta ganti waktu di jam atau hari lainnya. Bahkan, minggu tenang yang diberikan sebelum ujian untuk dipakai merasakan hari-hari indah libur kuliah, ikut tergadai juga.
“Dasar neh dosen, seenak be dak datang,” ucap salah satu temanku, Rio, dengan memakai bahasa daerah Jambi.
“Hahay, iyo neh Yok, gek kalo’ dak datang, banyak absen, dak boleh ikut ujian pulo,” aku juga mengimbangi dengan bercakap dengan bahasa daerah Jambi juga. Agak sedikir maksa, karena sebenarnya aku keturunan Jawa. Tapi jadilah walaupun suaraku kecil dan tidak senyaring suara orang Sumatera.
“Nak balek tanggung pulo. Agek kito masuk lagi. Mana tugas belum digawein. Sudahlah, aku nyontek kau be yang tugas besok tu!”
“Enak be nyontek. Kan dak boleh samo!”
Rio mulai memohon. Pertahanan benteng diriku takkan mempan ditembus rayuan Rio yang menggema di telinga.
“Pelit nian yo sekarang. Yo udahlah, kawanin aku makan di kantin be!”
Makan? Ngomong-ngomong, pasti dia kelaparan. Aku lupa menyuruhnya keluar. Kalau Mama masuk kamar, tak tahu apa yang terjadi?
Akhirnya aku terima tawaran ajakan Rio ke kantin. Nikmat sekali dia makan. Aku membayangkan mulutnya penuh dengan mie yang dia makan, terus mengangah karena kepedasan. Hahaha, lucunya.
“Kenapa cengengesan? Ado yang putus yo urat saraf?”
“Enak be, emangnya aku gilo.”
“Pasti tadi ngebayangin aku yang idak-idak? Aku tau aku neh manis, tampang aku cocok untuk dimaksiatin. Apolagi kalo’ aku di jalan dewean, mungkin aku sudah diculik orang saking imut-imutnyo.”
“Hahaha... Aku cuma bayangin lucu be nengok tampang kau yang bloon. Hmm, siapo sech yang mau nyulik jantan dak bermanfaat kayak awak? Kalo’pun diculik, pasti sudah dibuang di nusa kambangan.” Ku akui dia manis, tapi sayang, dia terlalu narsis, membuat aku mengatakan kebalikannya.
“Syirik be,” balasnya.
“Hampir lupa Yok, sebenarnya aku mau cerita.”
“Cerito apo?”
“Sebenarnya...”
Aku tersentak kaget saat dia berdiri, bukan aku saja, hampir separuh orang di kantin juga. “APO? Seorang Ria menyukai Rio yang cakep ini?”
Tawa memecah belah keheningan sesaat. Semua orang di kantin terpingkal-pingkal tertawa. Wajahku merah padam. Ya ampun, malu rasanya. Ku jewer telinga Rio sampai keluar kantin. Dasar anak stres, tadi kelihatan sok serius. Belum cerita sudah bertingkah aneh lagi.
Di kampus kami memang digosipkan pacaran. Lantaran sering kepergok berduaan. Padahal kami lebih cocok sebagai kakak-adik, Rio dan Ria, hampir serupa nama panggilan kami. Sekalipun Rio tidak pernah menyatakan cinta kepadaku, perhatiannya sangat besar untukku, walaupun aku rasa dia itu tidak waras.
Akhirnya ku lepas jewerannya. Dia mengelus telinganya sebentar. Kali ini dia menyuruhku bercerita. Dan aku siap menjadi serigala yang akan menerkam jika dia main-main lagi. Dengan seksama dia mulai mendengar. Saat usai cerita, dia menawarkan pertolongan.
“Bawa be dio ke kontrakan aku! biak dak besak, tapi cukuplah untuk nampung dio.”
“Makasih banget Yok, aku yang akan nanggung makanannya,” syukurlah ternyata Rio bisa diandalkan.
“Jadi, aku boleh nyontek tugas besok kan?”
Anak ini, mengerti kata-kata tidak sech? Rupanya benar-benar ingin dihajar sampai babak belur.
Pulang kuliah aku dan Rio menuju ke rumahku. Hari ini aku naik angkutan umum lagi. Jadi pulangnya aku menumpang Rio dengan motor bebeknya. Di tanganku menggenggam kantong plastik berisi sebungkus makanan. Pasti dia sudah kelaparan di rumah.
Rasa cemas menghampiri saat aku tiba di rumah. Ku persilakan Rio masuk dan duduk. Segera aku menuju kamar. Nihil. Tak ada siapapun. Mulai ku cari keberadaannya di kolong tempat tidur, di dalam lemari bahkan di samping meja belajarku. Tetap juga tidak ada.
Ah, aku akan tahu jawabannya. Kemudian aku berlari. Ku temukan Mama di dapur.
“Dimana dia Ma?”
“Siapa?” Mama pura-pura bodoh. “Oh, tadi Mama bawa dia belanja pake mobil, terus Mama taruh dia di Rumah Makan.”
Apa? Jika benar apa yang dikatakan Mama, ingin ku banting semua piring yang ada di dapur.
“Kenapa Mama tega?” aku mulai terisak tangis dan tenggorakan terasa tercekat.
“Habisnya, kamu ngeyel dibilangi Mama. Mama kan udah bilang, jangan bawa dia ke kamar! Mana dia tadi batuk-batuk. Itu semua demi kamu, sayang!”
Mama mendapatinya di kamarku. Tuhan, aku tahu apa yang dilakukan orangtuaku untuk kebaikanku. Tapi, tapi aku tak bisa menerima kenyataan ini. Dengan pahit dan getir yang melanda, aku meninggalkan dapur dan menemui Rio dengan uraian air mata.
“Ado apo Ria?”
Aku menguasai diriku. Menjelang beberapa detik, akhirnya aku dapat berbicara dengan masih uraian air mata.
“Dia udah dibuang Yok,” aku mulai duduk di sofa.
“Kemana? Kita cari yuk!” ajaknya dengan suara lembut.
“Dak usahlah!”
Rio berdiri dan berpindah ke sofa dimana aku duduk. Dia duduk di sebelahku dan melingkarkan tangan kanannya ke pundakku. Saat itu juga, ku sandarkan kepalaku di bahunya. Aku menangis sejadi-jadinya. Dia hanya mengusap-usap rambutku dan membisikkan kata “sabar” berulang-ulang yang membuat aku semakin sedih.
Aku teringat bagaimana aku memperlakukan kasar tadi malam. Membentaknya. Kalaupun aku tahu akan begini, mending tidak aku bawa dia masuk. Oh, kepedihan ini masih mengiris hati.
Ku harap ada orang yang akan menampungmu dan menyayangi dengan tulus. Maaf jika aku pernah berbuat kasar dan tidak baik padamu. Di ujung jalan manapun dirimu berada, ketahuilah, aku tetap menyayangi dan berdoa untuk dirimu. Selamat tinggal kucing manisku.
“Mari Yok, kito ngerjoin untuk tugas kau besok!” dengan perasaan masih kelabu, aku mengajaknya. Aku yakin Rio akan menghidupkan hari-hariku lagi.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar